Berdiri di Atas Gunung

Shalom, artikel ini merupakan Rhema yang saya dapatkan lewat Firman Tuhan yang saya dengar pada hari minggu yang baru lewat di gereja.

Firman Tuhan yang disampaikan yaitu Keluaran 19:3-5 yang membahas tentang Bagaimana Menjadi Kesayangan Allah.

Namun, saat mendengarkan pemberitaan Firman Tuhan Rhema yang saya dapat menitikberatkan pada ayat 3-4, yaitu :

3  Lalu naiklah Musa menghadap Allah, dan TUHAN berseru dari gunung itu kepadanya: “Beginilah kaukatakan kepada keturunan Yakub dan kauberitakan kepada orang Israel:
4  Kamu sendiri telah melihat apa yang Kulakukan kepada orang Mesir, dan bagaimana Aku telah mendukung kamu di atas sayap rajawali dan membawa kamu kepada-Ku.

Perhatikan yang di bold.

Puji syukur kepada Tuhan karena ada saja pengertian yang baru yang ditambahkanNya kepada saya tuk mengerti sehingga bisa berbagi pada sahabat bryxp | Christ Youth semua.

Rhema yang saya dapat menyangkut ‘Gunung‘  yang dibagi dalam beberapa penjelasan.

Sedikit pengantar yaitu tentang Gunung, diartikan :

  • Permasalahan
  • Tempat tinggi, sulit dijangkau, banyak halangan tuk ke puncak, dan memerlukan tenaga / pengorbanan yang besar untuk sampai ke puncak.
  • Memiliki resiko jatuh, tergelincir dan celaka ketika didaki

Mungkin kita semua sudah sering mendengar hal ini, tapi saya merasa ada yang perlu kita perhatikan baik dalam Firman Tuhan ini.

Kita mulai ayat yang ketiga.

3  Lalu naiklah Musa menghadap Allah, dan TUHAN berseru dari gunung itu kepadanya: “Beginilah kaukatakan kepada keturunan Yakub dan kauberitakan kepada orang Israel:

Kita cermati ketika “Musa menghadap Allah, dan Tuhan berseru dari gunung itu kepadanya ”

Dari ayat ini kita lihat bahwa Musa menghadap Allah di gunung itu, kemudian Tuhan menjawabnya.
Apa maksudnya ? berarti Tuhan menjawab Musa ketika ada di gunung tersebut.

Ketika kita berada dalam posisi yang sulit (menghadapi gunung) sebenarnya kita sudah sangat dekat dengan Tuhan, kita sangat dekat dengan jawaban Doa kita, tapi terkadang kita lelah ketika mendaki. Sering kita menjadi lemah, bahkan ada yang sampai tergelincir dan terjatuh. Tapi takkan Tuhan biarkan kita tergeletak.

Apakah Musa dengan lancar-lancar saja ketika ‘mendaki’ gunung untuk bertemu Allah ?

Kita lihat, puncak gunung adalah posisi yang tinggi. Jangkauan pandang menjadi lebih luas ketika berada di puncaknya. Alam akan terlihat sangat indah. Sejuk dan tentram.
Ketika kita berada di puncak gunung mampukah kita menjadi teladan bagi orang yang melihat kita ?
Sangat terbalik dengan proses naik ke gunung itu sendiri.
Perjuangan, peluh, kelelahan, dan sebagainya menjadi warna tersendiri dalam proses mencapai puncak.
Ketaatan dan ketekunan menjalani proses membedakan antara satu dengan yang lainnya.

Sering orang terlena dengan posisinya ketika berada di puncak, terlena akan segala keindahannya hingga akhirnya tak sadar dan salah berpijak hingga kehilangan posisinya yang semula dan akhirnya jatuh dalam jurang kesombongan, dosa,dan lainnya.

Pernahkan kita merenungkan, apa maksud Firman Tuhan yang dalam PL ketika para nabi ingin bertemu Tuhan mereka harus naik ke gunung, hingga bangsa yang menjadi musuh Israel seperti Filistin, Moab, dsb menyebut Tuhan Israel adalah allah gunung?

Berbeda dengan pengantar tentang gunung diatas, Rhema yang saya dapat adalah :

  • Gunung berbicara tempat yang tinggi, indah, tenang, tentram dan sejahtera. Proses naik ke gunung lah yang sulit. Dalam proses kita sebagai anak Tuhan yang sering menghadapi gunung permasalahan, pencobaan dan penderitaan haruslah kuat bertahan hingga kita tiba di puncak, karena disana ada Tuhan yang memberikan kelegaan, jalan keluar, dan damai sejahtera. Kita akan ‘naik kelas’. Kita tidak menjadi anak-anak lagi.
  • Gunung berbicara tempat yang mudah dilihat orang, sehingga orang yang berhasil naik (menaklukkan) sebuah gunung bukan suatu perkara mudah. Kita lihat penjelajah dan petualang yang berhasil mendaki sebuah gunung tinggi biasanya akan diapresiasi lewat penghargaan dan sebagainya.

Lanjut ayat yang ke 5, khususnya bagian b.

…. dan bagaimana Aku telah mendukung kamu di atas sayap rajawali dan membawa kamu kepada-Ku.

Kita lihat ada Rajawali disini, kita tahu bahwa burung Rajawali adalah burung yang kuat yang dapat terbang tinggi dan memiliki sarang di gunung / bukit-bukit. Mengapa ? agar musuhnya tidak dapat mencapai sarangnya dan memangsa anak-anaknya.

Rhema yang saya dapat disini gunung menyangkut soal keteguhan, tidak goyah, kokoh, kuat dan aman.
Kita berlindung dibawah naungan SayapNya, tidak ada yang bisa memangsa kita ketika kita ada dibawah naunganNya.
Kita terbang tinggi bersamaNya.

Allah menghendaki kita ‘menaklukan’ gunung dan berdiri di puncak, karena ada Tuhan yang sudah menunggu kita disana.
Kita aman ketika ada di gunungnya Tuhan.

Jadi saudaraku, marilah Berdiri dengan kokoh di Atas GunungKita taklukkan gunung-gunung masalah, pencobaan, dan persoalan yang membuat kita jauh dariNya.

Marilah mendekat terus kepadanya.

Haleluya.

Aku bersyukur kepada Tuhan untuk segala Rhema yang telah IA karuniakan.

Semoga Roh Kudus akan membimbing kita semua mengerti akan maksud Tuhan lewat artikel ini sehingga dapat kita lakukan FirmanNya, dan Nama Tuhan diagungkan serta dimuliakan selalu.

Tuhan Yesus Kristus yang kiranya akan selalu memberkati kita semua.

Imanuel

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s