Menjadi Sabar itu bukan Sifat tapi Keputusan

Hmmhhmm,,,Kata- kata yang pernah saya baca dalam timeline di twitter. Pada saat itu yang terlintas dalam pikiran saya adalah bacaan dalam alkitab tentang buah roh. Terdiam sejenak karena memikirkan kembali kalimat yang saya baca “ Menjadi Sabar itu bukan Sifat tapi sebuah KEPUTUSAN”.

Dalam bacaan alkitab yang membahas tentang buah roh, tepatnya terdapat dalam Galatia 5.22-23 mengatakan “Tetapi buah roh ialah : kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri”. Semua itu adalah satu bagian, dan kita sebagai manusia yang terlebih adalah anak- anak Tuhan haruslah memiliki buah roh dalam diri.
Tetapi satu hal penting yang tidak kita bisa lewatkan adalah, semua yang tergabung dalam buah roh adalah sifat!! Sifat itu adalah sesuatu yang abstrak, sesuatu yang tak bisa disentuh tetapi hanyalah dampak yang akan dirasakan. Sifat itu tak dapat kita aplikasikan jika tak ada sebuah KEPUTUSAN untuk menjadi…
Sesuai dengan kalimat diatas, menjadi sabar sudah bukan lagi sifat tapi keputusan. Begitupun dengan menjadi setia atau menjadi lemah lembut dan lain sebagainya, itulah keputusan. Kata kuncinya sehingga setia,sabar,lemah lembut bukan lagi sebagai sifat tetapi keputusan adalah kata MENJADI. Satu hal yang tidak bisa lepas dari kata keputusan adalah pilihan, karena untuk sebuah keputusanpun merupakan pilihan untuk melakukan atau tidak.

Jadi teringat pula sebuah cerita yang pernah saya baca mengenai kisah seorang anak laki- laki yang memiliki pohon cemara yang diberikan oleh kakeknya. Dengan berjalannya waktu tanpa disadari pohon itu ternyata makin layu karena si anak laki- laki ini tidak rajin menyiram. Suatu saat tersadarlah anak ini bahwa pohon pemberian kakeknya hampir mati. Dan saat itu pula tergeraklah hati anak ini untuk merawatnya karena menghargai pemberian kakek yang menyayanginya. Dengan sabar si anak laki- laki ini merawat kembali pohon cemara itu, dan pada saat itulah keputusan dari anak laki- laki ini untuk berkomitmen merawat pohon. Dengan berjalannya waktu maka terjawablah atas keputusan untuk berkomitmen. Dan pohon cemara itupun tumbuh menjadi besar dan kokoh atas apa yang dilakukan oleh anak laki- laki tersebut.
Cerita singkat diatas membuat saya berpikir bahwa semua itu berkesinambungan antara pilihan, keputusan dan komitmen. Ketika dalam diri kita diperhadapkan sesuatu dan apapun itu maka kita dituntut untuk membuat pilihan, dan setelah itu akan ada keputusan yang kita ambil, terakhir adalah komitmen yang harus kita jalankan dari keputusan itu. Seperti itulah alurnya yang saya bisa simpulkan.
Kembali kepada kalimat diatas lagi “Menjadi Sabar itu bukan sifat tapi sebuah Keputusan”, maka itulah yang akhir- akhir ini menjadi bahan perenungan saya. Ketika dalam kehidupan saya, entah di lingkungan teman- teman pelayanan,tempat tinggal,kerja,di jalan ,apakah saya telah mengambil keputusan itu dan berkomitmen atasnya. Bukan hanya sebagai penghias dalam diri sifat sabar,murah hati, dan lain sebagainya tetapi saya telah siap membuat keputusan untuk menjadikan itu sebagai gaya hidup. Ketika saya bisa menjadi berkat bagi sesama maka pada saat itu yang dipermuliakan adalah Tuhan Yesus sendiri, dan saya ingin itu terjadi dalam kehidupan saya.
Apakah teman- temanpun telah mengambil keputusan itu? Dan siap untuk berkomitmen atas keputusan itu? Saatnya masing- masing kita mengintrospeksi diri, waktu kita tidak banyak. Sudah waktunya kita mempermuliakan Tuhan Yesus lewat apa yang kita miliki dalam diri. Biarlah segala pujian, hormat, kemuliaan hanya bagi Tuhan Yesus saja. Amin ^^,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s