Kesetiaan

“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.”
Lukas 16 : 10

Kesetiaan biasanya dikaitkan dengan hubungan pergaulan, persahabatan, pekerjaan, dan percintaan. Atau dengan kata lain kesetiaan dipandang sebagai suatu hal yang dapat selalu  membutuhkan pengorbanan serta ketekunan.
Kita dapat melihat banyak contoh kesetiaan yang ada disekitar kita. Dalam alkitab dapat kita lihat kesetiaan Abraham kepada Allah, kesetiaan dalam persahabatan antara Daud-Yonatan, kesetiaan Stefanus kepada Tuhan hingga dia mati dirajam, dan banyak lagi.

Hari ini kita perlu belajar bahwa sebenarnya kesetiaan bukan hanya terbatas pada hal-hal yang tampak secara lahiriah dalam hubungan interaksi kita dengan orang lain, tapi juga dalam hal-hal kehidupan pribadi kita.
Sudahkah kita sadar bahwa kesetiaan harus melekat dalam pribadi kita? Terlalu sering kita berpikir bahwa untuk setia kita harus menunjukkannya kepada orang lain, tapi sadarkah kita bahwa kesetiaan dalam pribadi kita sendiri mutlak diperlukan ?
Setia pada komitmen untuk bangun pagi misalnya, merupakan suatu bentuk kesetiaan yang kita lakukan bagi diri sendiri yang bisa saja tidak diketahui orang lain.

“Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?”
Mikha 6:8

Kita lihat ayat diatas menggambarkan bahwa Allah menghendaki kita bukan hanya menjadi orang yang setia, tapi menjadi orang yang mengejar kesetiaan itu sendiri, artinya kesetiaan turut menjadi bagian hidup kita bukan hanya sekedar tugas atau sekedar untuk dilihat orang.
Allah menghendaki kehidupan kita setia dihadapanNya.
Kesetiaan bukan hanya sekedar untuk dilakukan, tapi menjadi bagian dalam kehidupan kita.

Mengapa Allah menghendaki kita untuk hidup dalam kesetiaan ?

Wahyu 19:11  Lalu aku melihat sorga terbuka: sesungguhnya, ada seekor kuda putih; dan Ia yang menungganginya bernama: “Yang Setia dan Yang Benar,” Ia menghakimi dan berperang dengan adil.

Allah itu Setia, jadi kita sebagai makhluk yang serupa dan segambar denganNya harus menjadi pribadi yang setia baik dalam tugas dan tanggung jawab kita sehari-hari.
dapat kita baca dalam perjanjian baru berulang-ulang bahwa Bapa memiliki predikat sebagai Allah yang setia.

“Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian.”  Yohanes 4:23

Allah itu Benar, jadi Allah menghendaki kehidupan kita benar dan setia di hadapanNya.

Dari ayat diatas kita lihat bahwa Bapa menghendaki “penyembah” bukan “penyembahan”, berarti yang Allah tuntut dari kita yaitu kehidupan kita sebagai penyembahan yang benar dan setia kepadaNya.
Kehidupan kita adalah penyembahan kita. Jadi Allah menghendaki kehidupan kita menjadi penyembahan kepadaNya lewat kita hidup dalam kesetiaan dan kebenaran.

Sebenarnya renungan ini hanya sampai paragraf diatas, tapi Tuhan menggerakkan saya untuk meneruskan bagian ini.
Perlu kita renungkan bahwa seringkali kita banyak tidak berlaku setia dalam hidup ini.
Jadi saya perlu untuk membagikan apa yang saya dapat.

Puji Tuhan, sementara saya menulis artikel ini ada banyak Rhema dari Tuhan yang saya dapat, sehingga puji Tuhan ada banyak hal baru yang dibukakan olehNya.

Haleluya,
Kita lihat tentang Buah Roh di Galatia 5:22-23

Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan,
kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.

Kita lihat bahwa kesetiaan ada di bagian yang ke-7.
Apa anda rasa ini kebetulan ? Tidak saudara.

Dalam Alkitab, angka 7 itu digambarkan sebagai bentuk kesempurnaan, ungkapan syukur, dan gambaran Allah itu sendiri.
-Artinya kesetiaan itu perlu disempurnakan lewat proses kehidupan kita.
-Kesetiaan adalah berarti bahwa kehidupan kita adalah suatu cara hidup yang bersyukur apapun kondisinya.
-Allah adalah Setia.

Bagian terakhir, bahwa hal-hal apa yang menjadi bagian dari kesetiaan ?

1. Tanggung jawab

Berarti apapun yang menjadi tugas serta tanggung jawab perlu kita lakukan dengan setia,
Bukan masalah posisi atau jabatan kita, tapi apakah kita setia mengerjakannya dengan tulus dan penuh kesungguhan hati.
Tuhan melihat hati.

2. Hidup benar

Sudah disinggung diatas mengenai hidup yang benar, tapi yang ingin ditekankan sekali lagi bahwa hanya dengan kesetiaan kepada Tuhan maka kita bisa hidup dalam kebenaran, amen ?
Penting sekali bahwa kesetiaan harus menjadi bagian kehidupan kita.

3. Pelayanan (Pekerjaan)

Apapun pelayanan/ pekerjaan kita tentu kesetiaan adalah hal yang mutlak bukan?
Serupa mengenai tanggung jawab, pelayanan/pekerjaan perlu dilandasi dengan kesetiaan agar hal tersebut dapat berlangsung kontinu.

Banyak yang terpanggil, sedikit yang terpilih, dan lebih sedikit lagi yang setia.”

4. Komitmen pribadi

Sudah disinggung diatas, apa saja yang menjadi komitmen pribadi laksanakanlah itu dengan penuh ketekunan dan kesetiaan.

Puji Tuhan, biarlah Roh Kudus yang akan memberikan teman-teman pengertian dan rhema tersendiri sehingga renungan ini bisa memberkati sobat CY semua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s