Mendalami Pemeliharaan Tuhan

pemeliharaan Tuhan - bryxp.wordpress.com

gambar: jeffrysudirgo.blogspot.com

Luas sekali makna judul tulisan ini, ya? Benar. Kita semua bebas menterjemahkannya. Dan saya, ingin membagikan sebuah sudut kehidupan darinya. Karena ternyata, tidaklah elok untuk tidak berani menyambungkan semua perjalanan hidup sejak lahir sampai pada titik sekarang. Sebenarnyalah, justru di masa “dewasa” atau kalau berani mengatakan, di masa “tua” ini jangan sia-siakan kesempatan duduk hening sejenak di kursi kehidupan, dan merenungkan kasih pemeliharaan Tuhan. Masih ingat, kan? Ini lho…tokoh-tokoh di Perjanjian Lama, perihal kisah hidup Yusuf, Nuh, Ayub, Ruth, Ester, Daud, dan lain-lain, semuanya mengalami kasih pemeliharaan Tuhan dalam hidupnya. Saya yakin, kalau ada orang dengan  nama-nama di atas, dalam konteks zaman sekarang, maka dia pun dipelihara Tuhan hidupnya.

Seorang bapak, rektor sekolah tinggi teologia yang ada di Jakarta, pada pertengahan tahun 1990-an, saya undang ke studio radio guna saya wawancarai dalam acara Renungan Pagi. Sekalipun acara itu dalam bentuk harus direkam dulu, tetapi ternyata sangat memberkati para pendengar yang pagi-pagi sekali (subuh) sudah bersiap di rumah untuk mulai beraktifitas sepanjang hari itu. Ya, biasanya kalau sedang rekaman  seperti itu, ada celah waktu saya dan narasumber untuk sharing hal-hal pribadi. Tetapi, untuk sang rektor ini, justru sebuah pertanyaan pribadi saya lontarkan untuk juga masuk direkam, sehingga besok pagi para pendengar juga mendengarkannya. Nah, pertanyaan singkat dan jawaban singkat dari sang rektor tersebutlah, yang membawa saya berkisah/bersaksi pada paragraf-paragraf di bawah ini.

Ya, ketika masih duduk di Taman Kanak-kanak, di tanah kelahiran saya di sebuah kabupaten, Sumatera Utara, saya berteman dengan seorang anak laki-laki namanya Tigor, sebaya dengan saya. Suatu saat kami sedang berada di dekat sebuah sumur yang tidak dilingkari tembok semen. Sumur itu bagaikan lobang yang sering kita jumpai di jalan raya yang rusak.  Namun tentu lobang sumur itu cukup besar. Ketika saya turun sedikit ke dalam sumur—karena ada trap-trap tanah di pinggir sumur sebagai anak tangga—untuk mencuci kaki, begitu naik lagi, entah setan apa yang hinggap di benak si Tigor, tiba-tiba saya didorongnya sehingga jatuh kecemplung ke dalam sumur. Saya rasakan, badan saya tenggelam dalam posisi berdiri dan saya berusaha berjinjit-jinjit di dasar sumur dengan tangan terangkat ke atas. Tapi bersamaan dengan itu air pun masuk ke mulut, hidung saya, dan ke paru-paru. Masih sempat saya dengar teriakan seorang ibu yang mengatakan saya jatuh ke dalam sumur. Dan masih sempat pula saya dengar seorang pria dewasa berteriak, yang sebelum saya jatuh ke sumur saya lihat dia sedang memetik rambutan di cabang-cabang pohonnya. Nah, rupanya sang pria itulah yang akhirnya menarik tangan saya yang terlihat di permukaan air. Lalu saya dia gendong ke rumah, sementara saya antara sadar dan tidak sadar diri. Lamat-lamat saya dengar ibu saya berteriak-teriak, sembari menekan perut saya sehingga terasa ada air yang keluar dari mulut! Hm…hm…saya tidak tahu berapa menit kejadian itu berlangsung. Yang pasti saya sudah merasakan….rasanya….sebentar lagi akan mati! Saat di dalam sumur. Tetapi…Tuhan ternyata masih memelihara hidup saya!

Masa-masa muda dan memasuki ranah berpacaran, ada dua kali kejadian saya (maksudnya: saya dan pacar) hampir ditabrak kereta api di kota Jakarta. Saat itu kami berjalan di pinggir rel kereta api dari pasar bunga Cikini menuju Gondangdia. Kami yang berjalan membelakangi arah kereta dari Manggarai tiba-tiba terkejut setengah mati mendengar pluit/klakson kereta rel listrik yang sudah tinggal beberapa meter di belakang kami, saat menoleh. Beruntung kami kaget sembari secara reflex bergerak ke kanan menjauhi kereta. Bayangkan, kalau gerak reflex kami malah menuju ke arah rel kereta! Ohhh…kembali Tuhan memelihara hidup saya!

Sebelum kejadian di atas ada juga kejadian yang satu lagi di perkampungan padat-rumah di daerah Pejompongan. Saya dan teman-teman, termasuk pacar saya, menelurusi lorong-lorong/jalan tikus untuk sampai ke tujuan dengan cara pintas. Saya asyiklah…berbincang dengan pacar (maaf, ini pacar sebelum yang di atas). Berjalan berdampingan dan berada di depan teman-teman lain. Saking asyiknya kami tidak menyadari sudah hampir keluar jalan tikus dan akan sampai/menyeberangi rel kereta api. Tiba-tiba, saat kami sudah hendak keluar dari jalan tikus itu, kami melihat di depan ada cahaya lampu terang sekali dan bunyi pluit kereta. Bersamaan dengan itu terdengar teriakan teman-teman di belakang: Awas ada kereta!! Dan secara reflex saya dan pacar berhenti tepat di dekat rel kereta. Kami menyaksikan  ular besi itu dari arah kanan dengan gagahnya melewati kami yang jantungnya berdegup keras sekali! Waduuuhhhhh….Tuhan sungguh baik, memelihara hidup saya!!

Masa-masa awal bekerja sebagai karyawan radio siaran, pernah juga terjadi peristiwa berikut. Saya sedang menunggu datangnya bus metromini. Saya berdiri di ujung jalan persimpangan empat, tempat becak-becak juga parkir. Saya berdiri dekat becak-becak itu, bersama calon penumpang lain. Dan, waktu itu dari jauh sudah tampak sebuah bus metromini datang menghampiri. Namun, aneh (saya sadari belakangan) tiba-tiba saya berjalan ke arah timur menjauhi becak-becak yang parkir itu, ada sekitar 10 meter saya menjauh. Saya seperti digerakkan pindah tempat. Kemudian, bersamaan dengan itu muncullah metromini tersebut, kecepatannya sedang-sedang saja, dan langsung menabrak becak-becak yang sedang parkir itu. Terdengar bunyi…brakkk..brukkk..brakk…dan teriakan orang-orang! Bus metromini itu pun berhenti di situ. Ramailah suasana! Saya pun ikut terkejut….dan beberapa detik kemudian jantung saya berdegup keras….ternyata, ternyata….kalau saya tidak berpindah ke timur, maka saya adalah satu-satunya orang yang menjadi makanan empuk ditabrak metromini itu!!! Karena saya berdiri di depan becak yang sedang parkir. Untunglah….waktu itu tidak ada korban jiwa dari para tukang becak….hanya becaknya rusak, dan si sopir melarikan diri. Saya bersyukur Tuhan memelihara hidup saya….dan saat itu saya teringat bahwa sebelum keluar dari rumah menuju tempat menanti bus metromini itu, saya telah berdoa!

Hm…hm…masih banyak lagi kesaksian hidup saya yang dekat-dekat dengan area kematian, namun Tuhan menolong menyelamatkan saya. Termasuk juga perihal sakit-penyakit. Para pembaca tentu bisa menebak, sakit-penyakit apa yang biasa menghinggapi orang-orang yang biasa bekerja di bidang media dengan sangat antusias, yang memang jam kerjanya 8 jam tapi tanggungjawab kerjanya bisa menjadi 24 jam! Plus penyakit-penyakit turunan…hehehehehe….namun Tuhan pun memelihara saya, melewati semua itu.

Nah, kembali kepada pengalaman mewawancarai rektor sebuah sekolah tinggi teologia tersebut. Namanya, bapak Jan Aritonang. Tahun 2009 saya bertemu beliau di Wisma PGI di Menteng, Jakarta Pusat. Dia tampak sedikit gemuk. Sehat menurut pandangan saya. Saat itu beliau ada acara/sedang memimpin rapat di sebuah ruangan di wisma itu. Saat dia keluar sebentar di situlah saya jumpa beliau. Masa itu beliau sedang menjabat kembali sebagai rektor. Lebih 10 tahun telah berlalu kenangan saya bersama dia di studio rekaman. Dan inilah salah satu pertanyaan saya padanya saat wawancara itu: “Pak, apa yang bapak syukuri dalam hidup ini?” Dia menjawab,”Hm…hm…saya bersyukur bahwa saya masih dapat  bangun pagi, dan saya bisa membuka mata saya, ehhhh…ternyata saya masih hidup! Saya sangat mensyukuri itu, karena saat ini saya tengah dilanda berbagai penyakit yang dekat dengan area kematian. Bahwa Tuhan memberi saya hidup hari ini, berarti Tuhan memberi kesempatan pada saya untuk berkarya dalam hidup hari ini, dan semua untuk kemuliaan nama-Nya.”

Saya tersentak dan trenyuh dengan ungkapan beliau di atas, di ruang rekaman siaran! Sangat bermakna. Itulah sebabnya sampai sekarang saya masih ingat pada beliau termasuk momen/adegan saat kami berada di dalam studio rekaman. Dan caranya menjawab pertayaan di atas pun tetap saya ingat. Dengan serius…lambat…menghela nafas….dan lega penuh semangat/sukacita!

Ya, kalau kita setiap hari/pagi berdoa, sebelum mulai beraktifitas dalam kehidupan, saya yakin pemeliharaan Tuhan akan sangat kita rasakan. Tetaplah berdoa! Sebab doa adalah nafas kehidupan. (Bila tidak berdoa maka berarti tidak “bernafas” dong, ya? Orang yang tidak bernafas berarti……??? Silakan simpulkan sendiri).

Pembaca yang terkasih, pernahkah Anda mengalami hal-hal seperti yang di atas dan sekaligus merenungkan pemeliharaan Tuhan dalam hidup Anda?

Jakarta, Januari 2012

Tema Adiputra
http://www.glorianet.org

2 responses

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s