Jangan Menyerah

Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.
2 Timotius 4:7

jangan menyerah - bryxp.wordpress.com

sumber gambar: gbimaranatha.blogspot.com

Shalom,
Salam sejahtera bagi kita semua.

Puji Tuhan pada kali ini saya ingin berbagi sebuah artikel yang kiranya bisa menjadi renungan dan bahan introspeksi bagi diri kita.
Sebagai renungan saya bagikan sebuah kisah yang saya kutip dari blog http://tulisanmich.blogspot.com.

Ada sebuah kisah unik yang terjadi pada tanggal 20 Oktober 1968. Waktu itu jam sudah menunjukkan pukul 7.00 malam, nampak beberapa ribu penonton masih memadati Mexico City Olympic Stadium. Pada saat itu juga suasananya sudah mulai gelap dan dingin. Para pelari marathon yang tak kuat lagi dan sudah kehabisan tenaga dibawa lari ke pos-pos pertolongan pertama. Mereka dirawat dan diobati. Nah, lebih dari satu jam sebelumnya, seorang bernama Marco Wolde dari Etiopia melintasi garis finish, menjadi pemenang dari lomba lari sejauh 26 mil 385 yard tersebut. Ia menjadi juara satu, meraih medali emas untuk negaranya. Tapi bukan sosok dia yang akan saya soroti kali ini. Tapi seseorang yang menjadi juara paling belakang alias juara satu dari belakang.
 
Pada saat itu ketika para penonton yang masih ada sudah bersiap-siap untuk meninggalkan stadium, mereka yang duduk di dekat gerbang marathon tiba-tiba mendengar suara sirine dan peluit polisi. Semua mata tertuju ke arah gerbang. Lalu sesosok tubuh yang mengenakan nomor 36 dan warna kebangsaan Tanzania memasuki stadium itu. Nama atlet itu John Stephen Akhwari. Ia adalah orang terakhir yang menyelesaikan lari marathon tersebut. Perjuangannya mencapai garis finish tidaklah mudah. Ia terjatuh selama pertandingan dan mengalami luka di lutut dan pergelangan kakinya. Kemudian dengan kakinya yang berdarah dan berbalut perban, ia meringis perih dengan setiap langkah pincang di jalur lari 400 meter yang tersisa, tentu dalam usahanya untuk mencapai garis akhir.
 
Para penonton yang belum pulang pun berdiri dan memberi tepuk tangan. Berusaha memberinya semangat. Ia pun berhasil mencapai finish. Setelah itu Akhwari perlahan-lahan meninggalkan lapangan. Belakangan seorang reporter mengajukan pertanyaan yang mungkin ada di dalam benak setiap orang kepada Akhwari: “Mengapa Anda terus berlomba setelah Anda terluka cukup parah?” Bahkan saat ia terus berusaha keras mencapai garis finish padahal jelas-jelas ia adalah pelari terakhir yang tiba di garis finish. Tidak mungkin lagi meraih gelar apa  pun. Untuk pertanyaan itu Akhwari menjawab, “Negara saya mengirim saya sejauh 5.000 mil tidak untuk memulai lomba. Mereka mengirim saya sejauh 5.000 mil untuk menyelesaikannya.” (http://tulisanmich.blogspot.com.)

Pada kompetisi tersebut ia mendapatkan gelar “Raja Tanpa Mahkota.”. Akhwari masih berlomba selama sepuluh tahun setelah Olimpiade tahun 1968. Dia selesai diurutan kelima dalam maraton di Commonwealth Games 1970.Dedikasi Akhwari, membuat namanya digunakan oleh John Stephen Akhwari Athletic Foundation, sebuah organisasi yang mendukung pelatihan atlet Tanzania untuk Olimpiade. Akhwari juga diundang untuk Olimpiade tahun 2000 di Sydney, Australia. Dan kemudian juga muncul di Beijing sebagai duta dalam persiapan untuk Games 2008.

Moral dari kisah ini yang patut anda renungi . . . DEDIKASI . . . Akhwari sadar betul negaranya yang miskin, tidak mengirimkannya untuk sekedar mengikuti lomba, ribuan dollar uang rakyat harus disisihkan, perlu usaha yang lebih bagi negara miskin, agar seorang atlet dapat berangkat mengikuti olimpiade. Akhwari tidak ingin membuat negaranya dan rakyatnya kecewa. (astrodigi.com)

Haleluya,
Betapa luar biasanya mental pemenang yang ada dalam benak Akhwari ini. Ia tidak menyerah meskipun dia sudah tahu hasil akhirnya seperti apa. Dalam hal ini dia berusaha sekuat tenaga untuk menuntaskan ‘misi’ serta tanggung jawab yang dibebankan kepadanya. Bukan masalah hasil akhirnya seperti apa, tetapi ia berhasil menuntaskan misi perjuangannya untuk menyelesaikan tugasnya sebagai seorang pelari – garis finis.

Kita bisa melihat ayat diatas yang ditulis oleh rasul Paulus, dimana ia telah berhasil menyelesaikan tugasnya yang sebenarnya begitu berat, pahit, dan sungguh sulit.

Saudaraku, perjuangan apa yang kita hadapi saat ini?

Mungkin terasa begitu berat dan tidak mampu kita jalani, tapi ingat satu hal:
Jangan Menyerah!
Mengapa? Karena Tuhan yang sudah mengirim kita untuk menjalani ‘misi’ di dunia ini.

Mari kita berusaha untuk tidak pernah menyerah dan berusaha untuk dapat menuntaskan apa yang menjadi ‘panggilan’ kita sebagai tugas oleh Sang Maha Agung Tuhan Yesus Kristus.

bukan seberapa jauh jarak yang masih harus  ditempuh untuk mencapai tujuan, tetapi lihatlah sudah seberapa jauh kita menapakkan kaki untuk melangkah ke arah tujuan tersebut.”

Tetap semangat saudaraku, Tuhan Yesus menyertai dan menopang kita senantiasa.

One response

  1. 2Petrus 1:10🙂
    karena itu , kuatkan dan teguhkan hati kita juga, agar bisa mencapai garis akhir yang di harapkan🙂

    Blog sangat memberkati🙂
    Segala kemulian dan kepekaan hanya bagi Tuhan Yesus Kristus ^^,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s