Kesederhaan dan Ketulusan

Hadasa Bat-Abihail adalah seorang gadis muda yang cantik, pintar, baik hati, tidak sombong, dan sebagainya. Bisa dikatakan, Hadasa adalah gadis idola idaman semua pria. Ya, termasuk saya, mengidolakan Hadasa. Hadasa dibesarkan oleh pamannya yaitu Mordekhai. Hadasa tinggal dengan pamannya karena ia yatim piatu. Mereka hidup pada masa Raja Ahasyaweros, raja yang menguasai kerajaan Media dan Persia; seratus dua puluh tujuh wilayah dari India sampai ke Ethiopia. Bisa dibayangkan, kerajaan yang sangat luas. Suatu waktu, ketika sang Raja membuat keputusan untuk mengganti sang Ratu karena suatu alasan; yaitu ketika sang Ratu melanggar aturan kerajaan. Hal ini membuat terjadinya kekosongan rasa kasih dalam hati sang Raja. Untuk mengisi kekosongan itu, sang Raja mengeluarkan suatu perintah agar mengumpulkan semua gadis muda yang ada di seluruh wilayah kerajaan. Sang Raja mengadakan sayembara cinta. Sang Raja memberi kesempatan kepada semua gadis untuk berlomba mendapatkan tahta Ratu, lebihnya tahta hatinya. Akhirnya pada suatu malam, para tentara kerajaan melaksanakan perintah itu. Mereka mengumpulkan semua gadis, termasuh Hadasa. Namun, sebelum hal itu terjadi, paman Hadasa, Mordekhai menyuruh Hadasa untuk merahasiakan identitas kebangsaannya, kemudian mengganti namanya menjadi Ester.

irmamss.blogspot.com

Setelah semua gadis dikumpulkan di sebuah tempat di Istana Raja, semua gadis diantara Hadasa menjadi takut, tidak tenang, gugup, dsb. Semua rasa telah tercampur aduk. Kecuali Hadasa. Ia hanya tenang tersenyum. Bahkan ia malah menghibur rekan-rekan peserta sayembara. Namun, perasaan yang tercamur aduk itu hilang dari antara para gadis peserta sayembara itu ketika mereka mengetahui penjaga mereka, Hegai, memperlakukan mereka dengan sopan dan baik. kemudian tiba waktunya para peserta menghadap juri sayembara, yaitu sang Raja. Mereka harus menghadap satu per satu kepada Raja untuk memperlihatkan segala kebolehan mereka sehingga wajar untuk menjadi Ratu. Namun, mereka harus didandani terlebih dahulu. Mereka diberi kebebabasan dalam memilih pakaian yang bagus, perhiasan yang bagus, lebihnya segala sesuatu untuk memperindah penampilan dan mempercantik diri mereka. Ada yang memilih paket Sophie Marthin ala kerajaan Media dan Persia. Ada juga yang tidak. Para peserta pun mulai sibuk berdandan. Namun, ada yang berbeda. Hadasa sama sekali tidak tertarik. Hadasa pun hanya santai dan nampak tenang, adem ayem. Sungguh terlihat aneh oleh Hegai si pengawas para peserta sayembara.

Satu per satu peserta sayembara keluar masuk di ruang audisi sang Raja. Dan giliran Hadasa pun tiba. Hadasa pun berjalan masuk ke ruang audisi dengan penampilan ala Hadasa – penampilan sederhana. Hadasa menghadap sang juri tanpa perhiasan mewah, tanpa pakainan yang anggun. Ya, tanpa make-up. Mungkin saja. Ia pun mulai menunjukkan kebolehannya. Ia membawakan sebuah cerita cinta kepada Raja, Cerita tentang perjuangan Yakub mendapatkan Rahel (Kejadian 29). Sang raja pun mendengarkannya karena sang Raja belum pernah mendengar kisah itu. Namun karena gengsi, sang Raja pun terlihat biasa-biasa saja. Dan waktu audisi selesai. Hadasa pun sempat berkecil hati, karena sang Juri sepertinya tidak memiliki respon positif. Namun, niat Hadasa untuk memenangkan sayembara tetap besar. Kemudian, setelah beberapa tahap seleksi lain dilewati, Hadasa pun diperhadapkan kembali dengan sang Juri untuk membacakan cerita kepada sang Juri pada suatu malam. Namun, ketika Hadasa masuk ke ruangan itu, Raja sedikit memarahinya dengan menanyakan kenapa ia berani menghadap Raja hanya dengan memakai perhiasan kalung yang sudah hampir pudar tampilannya. Namun, Percakapan pun terjadi, sang Raja berkata, “Menurutmu, dirimu sangat berharga? Aku bisa membeli cintamu.” Jawab Hadasa, “Aku hanya mengira, jika betemu raja, harus lebih dari sekedar hadiah.” Dan sambil membuka kalungnya dan mengulurkannya kepada Raja, Hadasa pun berkata, “Ini adalah harta paling berhargaku di dunia: Ini masa lalu ku, masa sekarang, dan masa depanku, Dan semua ini untukmu.” Raja pun mengambilnya dan segera berpaling dan berkata, “dari semua benda, cinta lah yang paling mudah, dan yang paling murah dibeli.” Sambung Hadasa, “jika itu untuk dijual, Yang Mulia, itu bukan cinta. … aku bukan seorang pembeli, bukan juga seorang penjual cinta.” Setelah mendengar hal itu, dengan sedikit gengsi Raja pun berkata, “tentu! … seorang pria menawarkanmu lebih dari harta karun, seperti sebuah kerajaan.” Setelah mendengar kata-kata itu, Hadasa pun mengerti maksud perkataan dari sang Raja, bahwa sang Raja sedang menawarkan tahta Ratu kepada Hadasa. Ternyata Raja telah jatuh cinta pada Hadasa saat pertama kali mereka bertemu. Kemudian, suasana hati yang senang sambil menangis, Hadasa berkata, “satu-satunya hadiah yang aku inginkan adalah hatimu.” Raja menjawab, “sekarang itu jadi milikmu, … menikahlah denganku.” Akhirnya Raja memilih dan mengangkat Hadasa menjadi Ratu dan menempatkan sebuah tahta kepada hadasa. Bahkan bukan sekedar tahta. Ya, tahta hati sang Raja. Itulah kisah pada suatu malam saat bersama Raja – One Night with the King.

Kisah Hadasa di atas, bisa kita baca dalam kitab Ester 2:1-18.Ada berapa hal yang bisa kita lihat dan pelajari dari penggalan kisah Hadasa atau Ester di atas. Kita bisa menggali alasan-alasan mengapa Ester bisa dipilih oleh Raja dan di angkat menjadi Ratu menggantikan ratu Wasti. Menurut saya, ada dua penting hal yang Ester miliki, yaitu Kesederhanaan dan Ketulusan.

Pertama, Kesederhanaan – sifat yang tidak berlebihan. Ada ungakapan, kecantikan seseorang akan terlihat saat ia berpenampilan sederhana. Saya salah satu penganut paham itu, aatu sagat setuju dengan ungapan itu. Hal ini terlihat dalam diri Ester. Ya, Kesederhanaan. Kesederhaan penampilan ditunjukkan Ester saat menghadap Raja. Diceritakan bahwa ia tidak memakai perhiasan, pakaian bagus, berdandan dan sebagainya, untuk memperindah atau mempecantik dirinya. Bahkan dicatat dalam Ester 2:15, “ketika Ester, … mendapat giliran untuk masuk menghadap raja, maka ia tidak menghendaki sesuatu apapun Juga…”. Juga saat ketika ia berbicara kepada raja, ia tidak melebih-lebihkan kebolehannya alias lebay untuk mendapatkan perhatian Raja. Kesederhaan sikap dan tindakan itu menunjukkan kecantikan Ester yang sesungguhnya. Eh, saya tidak sedang menganjurkan para gadis agar tidak berdandan, tetapi jangan berlebihan.

Kedua, Ketulusan. Ketulusan bisa disejajarkan dengan kemurnian; atau tidak tercampur dengan hal lain. Ketulusan ini juga ditunjukkan oleh Ester ketika dalam adegan bahwa raja menawarkan harta karun yang berharga, atau lebihnya kerajaan, yaitu untuk menjadi Ratu atas kerajaan yang sangat luas. Namun, hebatnya bukan itu yang Ester kehendaki. Bukan harta, bukan tahta. Melainkan hati dari sang Raja lah yang ia kehendaki; hati untuk mencintai dirinya. Mengasihinya dengan In-Spite-Of Love, kasih yang walaupun. Walaupun aku begini, begitu, dsb. Itulah niat yang sungguh murni. Itulah ketulusan.

Ketika Ester memiliki kedua hal itu, kesederhanaan dan ketulusan, kedua hal itu membuat Ester dikasihi bahkan menimbulkan kasih sayang kepada semua orang yang melihatnya, termasuk sang Raja. (Lihat Ester 2 : 9a,15c). dan ketika Ester memiliki dua sayap untuk menimbulkan kasih sayang, Ia pun terangkat ke tahta kerajaan, bahkan tahta hati sang Raja. Itulah makna dari kalimat, “A man is raised up from the earth by two wings – Simplicity and purity.” yang ditulis oleh Thomas A Kempis pada tahun 1400 dalam bukunya yang berjudul Imitatio Cristi dan telah diterjemahkan dalam bahasa Inggris menjadi, The Imitation of Christ (Meniru kehidupan Kristus). Sungguh hebat. Saya kira kita semua setuju kalau Ester bukan hanya gadis idola idaman semua pria, namun juga bagi semua orang. Termasuk Anda para gadis. Mungkin. Pasti semua gadis ingin serupa dengan Ester yang bisa menaklukkan hati sang Raja. Ya paling tidak, sedikit mirip. Saya juga mendambakan gadis serupa Hadasa. Haha. Namun sebaiknya kita jangan hanya mengharapkan sosok seorang kekasih seperti Hadasa tetapi berusahalah untuk menjadi seperti Hadasa. Itu lebih baik. Ya, lebih baik kalau kita punya dua hal itu, Kesederhanaan dan ketulusan. Itu cukup.
***
Clieff H. Sumangkut. Tataaran, Minggu, 21 Juli 2013.

One response

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s