Air Mata Padang Gurun

Ini salah satu cerita yang saya ambil dari buku penulis favorit saya, Paulo Coelho.

 

Seorang teman Paulo Coelho kembali dari Maroko dengan membawa sebuah cerita indah tentang seorang misionaris; sesampainya di Marrakesh, misionaris itu memutuskan untuk berjalan-jalan setiap pagi di padang gurun yang terletak agak di luar kota. Sewaktu pertama kali berjalan-jalan disana, tampak olehnya seorang laki-laki berbaring dengan telinga ditempelkan ditanah, satu tangannya mengelus-ngelus pasir gurun.

 

“orang ini pasti tidak waras,” sang misionaris berkata dalam hati.

 

air mata padang gurun

hdmessa.files.wordpress.com

Tetapi pemandangan ini terus berulang setiap hari, dan setelah satu bulan lamanya, sang misionaris menjadi penasaran melihat perilaku aneh orang itu, dan dia pun memutuskan untuk mengajak bicara. Dia berlutut di samping orang itu dan berkata dengan agak terbata-bata, berhubung dia belum terlalu fasih berbahasa Arab.

 

“Apa yang anda lakukan?”

 

“Aku sedang menemani padang gurun ini, menawarinya penghiburan dari kesepian dan air matanya.”

 

“Aku baru tau kalau padang gurun ini bisa menangis.”

“Dia menangis setiap hari, sebab dia ingin berguna bagi banyak orang, dia ingin diubah menjadi lahan luas tempat orang bisa menanam palawija dan bungan-bunga, dan tempat domba-domba merumput”

 

“Nah, katakan pada padang gurun itu bahwa ia telah menunaikan tugas penting,” sahut sang misionaris. “setiap kali berjala-jalan di gurun ini, aku jadi memahami kapasitas manusia yang sesungguhnya, sebab bentangan gurun yang mahaluas ini mengingatkanku betapa kecilnya kita di hadapan TUHAN. sewaktu memandangi pasirnya, kubayangkan jutaan orang di dunia yang dilahirkan setara, namun dunia ini tidak selalu adil pada mereka semua. Gunung-gunung di gurun ini membantuku untuk bermeditasi, dan ketika melihat matahari muncul di cakrawala, jiwaku dipenuhi sukacita dan aku merasa lebih dekat kepada Sang Pencipta.”

 

Sang misionaris meninggalkan orang itu dan kembali kepada tugas-tugasnya sehari-hari. Bayangkan betapa terkejutnya dia ketika keesokan paginya dia melihat orang itu masih berada ditempat yang sama, dalam posisi yang sama pula.

 

“Sudahkah kau menyampaikan perkataanku kepada padang gurun ini?”

 

orang itu mengangguk.

 

“dan dia masih tetap menangis?”

 

“aku bisa mendengar setiap isakannya. Sekarang dia menangis karena selama ribuan tahun dia mengira dirinya tak berguna sedikit pun, dan sepanjang waktu itu dia sia-siakan dengan menghujat TUHAN serta nasibnya sendiri.”

 

“nah katakan pada padang gurun itu, walaupun kita, manusia, memiliki masa hidup yang jauh lebih pendek, seringkali kita juga mengira diri kita tak berguna. Jarang kita menemukan takdir kita yang sejati, dan kita merasa TUHAN telah berbuat tidak adil kepada kita. ketika akhirnya saat itu tiba, dan terjadi sesuatu yang mengungkap alasan kita dilahirkan, kita pikir sudah terlambat untuk mengubah hidup kita dan kita terus saja berkubang dalam penderitaan; seperti padang gurun itu, kita menyalahkan diri sendiri atas waktu yang terbuang sia-sia.””entah apakah padang gurun itu akan mendengarkannya,” kata laki-laki itu.  “dia sudah terbiasa dengan penderitaan, dan tidak bisa melihatnya dari sudut pandang yang berbeda.”

 

“marilah kita berdoa, seperti yang biasa kulakukan saat aku merasa orang-orang telah kehilangan semua harapan.”

 

Kedua laki-laki itu bertelut dan berdoa. Yang seorang menghadap ke Mekkah karena dia seorang muslim, yang seorang lagi menangkupkan tangan dalam doa, karena dia seorang katolik. Masing-masing berdoa kepada Tuhannya, TUHAN yang sama sejak dulu, walaupun orang-orang bersikeras menyebutnya dengan nama yang nama-nama yang berbeda.

 

Keesokan paginya, ketika sang misionaris pergi berjalan-jalan seperti biasa, orang itu tidak ada lagi disana. Ditempat orang itu biasanya memeluk tanah, pasirnya tampak basah, sebab sebuah mata air kecil telah mulai menggeluguk di situ. Pada bulan-bulan berikutnya, mata air itu semakin besar dan para penduduk kota itu membangun sebuah sumur disana.

 

Oleh orang-orang Beduin, tempat itu dinamakan “Sumur air mata padang gurun”. Konon siapa pun yang meminum airnya akan menemukan jalan untuk mengubah alasan kepedihannya menjadi alasan sukacitanya, dan pada akhirnya akan menemukan takdirnya yang sejati.🙂

 

 

by Heidy Abada

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s