Mata Manusia

“…Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati.”
1 Samuel 16 : 7

Suatu hari ada seorang ayah bersama dengan anaknya yang berumur 6 tahun dan seekor keledai pergi berjalan untuk kembali ke rumah mereka setelah bekerja seharian.

pic: plasa.mns.com

Dalam perjalanan pulang mereka harus melewati beberapa perkampungan. Karena anaknya sudah letih dan masih kecil, ayahnya menyuruhnya duduk diatas keledai mereka dan ayahnya yang akan berjalan sambil menuntun keledai itu. Sampai di kampung yang pertama banyak orang yang memandang sinis kearah anak itu, “anak yang tidak sopan ayahnya seharian bekerja, malah disuruh menarik keledai dan dia asik-asikan duduk diatanya” kata penduduk itu.

Mendengar hal itu sang ayah merasa kasihan pada sang anak karena dianggap anak tidak tau sopan. Akhirnya sang ayah menurunkannya dan membiarkannya berjalan kaki, sedangkan sang ayah menunggangi keledai itu. Sampai di kampung berikut. “orang tua itu tega sekali menyuruh anak kecil berjalan kaki dan dia dengan tenangnya duduk diatas keledai, tidak punya perasaan.” Mendengar hal itu sang ayah menjadi malu,

karenanya dia menyuruh anaknya untuk duduk bersama-sama.

Sampai di kampung yang berikutnya masih banyak orang yang melihatnya dengan sinis, “keluarga yang kejam, keledaikan hewan yang lemah. malah mereka bebani dengan berat badan mereka berdua” sang ayah pun gusar mendengar hal itu dan memutuskan untuk turun dan berjalan kaki bersama dengan anaknya. Di kampung terakhir sebelum sampai dirumah mereka. mereka masih mendapat cibiran orang. “keluarga bodoh, punya keledai tapi tak digunakan.” sang ayah kali ini hanya bisa menerima saja karena sudah tidak tau harus berbuat apa lagi.

Ilustrasi diatas menggambar apa yang sering kita temukan dalam hidup sehari hari kita. Ada banyak alasan dari manusia untuk menjatuhkan kita, tinggal bagaimana sikap menghadapinya, tapi terkadang sikap terbaik pun yang kita lakukan tetap akan terlihat ‘cacat’. Tanpa kita sadari kita mulai hidup dalam penilaian orang lain atas diri kita.

Ingat Tuhan yang menciptakan kita, Dia yang lebih pantas menilai hidup kita karena Dia yang paling tau dimana lebih dan kurang kita, dan Tuhan tidak akan pernah melihat apa yang kita lakukan, tapi motivasi kita melakukan hal tersebut. Tuhan tentu akan senang ketika kita mau untuk membaca alkitab di waktu senggang kita, tapi ketika teman kita melihatnya? tentu bisa ditebak, akan ada cibiran sok suci, sok benar, dll

“Sometimes you just can’t tell anybody how you really feel. Not because you don’t know why, Not because you don’t know your pupose , Not because you don’t trust them. But because you can’t find the right words to make them UNDERSTAND.”

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s