No Reserves, No Retreats, No Regrets

William Borden (1887 – 1913)

william borden - bryxp.wordpress.com

pic: wikipedia.org

Melayani Tuhan:
Tidak ada pilihan
Tidak ada kata mundur
Tidak Ada Penyesalan

“Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!”
Roma 12:12

Misionaris‬ yang meninggal pada usia 25 Tahun.
Tuhan begitu mengasihinya, kerinduannya adalah untuk melayani di China .Tetapi Tuhan yang paling mengertinya, Mesir menjadi tempat ia Tuhan panggil kembali ke RumahNya.

Sekitar awal 19 seorang pemuda bernama William Borden mendapatkan sebuah hadiah kelulusan berupa tiket keliling dunia dan sebuah Alkitab dari sang ayah.  Keliling dunia pada waktu itu tentu merupakan kesempatan yang langka, apalagi bagi seorang anak muda.  Dalam perjalanan panjang dengan kapal laut, Borden membaca Alkitabnya dan waktu itu ia mengalami perjumpaan pribadi dengan Allah.  Di saat yang bersamaan ia menemukan panggilan hidupnya untuk menjadi seorang misionaris.  Sejak saat itu ia memberikan hidupnya dan berkomitmen menjadi seorang laskar Kristus.  Di kapal itu ia membuka Alkitabnya di halaman paling belakang dan menulis sebuah kalimat pertama: “Tidak Ada Pilihan”.

Tahun 1905 ia masuk kuliah. Di kampus ia begitu bersemangat mengajak teman-temannya untuk bertobat dan melayani Tuhan.  Sehingga ia mengalami banyak cibiran dari teman-teman kuliahnya.  Tetapi ia tidak mundur.  Bahkan disitulah ia mendapat panggilan yang semakin jelas untuk melayani orang yang tidak percaya di Kansu, China.
Setelah lulus wisuda, selain ditawari untuk mewarisi perusahaan sang ayah, Borden menerima banyak tawaran pekerjaan dengan gaji selangit.   Masa depannya begitu cerah.  Tetapi ia menetapkan hati mentaati Allah menjadi misionaris, sekalipun ia tahu kehidupannya akan sangat sulit.  Waktu itu ia membuka alkitabnya dihalaman akhir dan kemudian menulis kalimat yang kedua “Tidak Ada Kata Mundur.”
Setelah lulus kuliah dengan nilai yang gemilang, Borden melanjutkan studinya di sekolah teologi Princeton Seminary. Ia menyelesaikan study teologinya dengan sangat baik.  Dan setelah diwisuda ia segera melakukan perlayarannya ke China. Borden tahu ia akan berhadapan dengan orang-orang yang tidak seiman.  Maka ditengah pelayarannya ia berhenti terlebih dahulu di Mesir bermaksud untuk belajar bahasa Arab.  Tetapi hal yang tidak terduga terjadi.  Di Arab ia terkena radang otak.  Penyakitnya sangat mematikan.  Dalam sebulan, Borden muda meninggal di usia 25 tahun karena radang otak.  Borden meninggal bahkan sebelum ia sempat melayani di China.(bennysolihin.blogspot.com)

Borden memang meninggal muda, tetapi Borden memberikan teladan hidup mengenai prinsipnya dalam melayani Tuhan . Sekalipun ia mengalami banyak hambatan yang bertubi-tubi dalam hidupnya, tawaran akan masa depan yang sangat cerah dan nyaman, cibiran teman-temannya, ladang pelayanan yang begitu sulit, dan bahkan akhirnya penyakit yang sangat memamatikan, Borden bisa tetap memegang teguh prinsipnya tidak mudur dalam pelayanannya kepada Tuhan.

Bahkan dalam kehidupannya yang begitu singkat, dia memberi teladan lewat prinsip hidupnya.
Lewat Borden, lahirlah sebuah kutipan Kristen yang sangat terkenal.

No Reserves. No Retreats. No Regrets.”

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s