DIA Mengenalmu

Dia Mengenalmu

dia mengenalmu - jesus bapa yang baik

pic: payangalau.blogspot.com

Ada sebuah kisah tentang seorang ayah dengan anak lelakinya yang sangat miskin. Keduanya berusaha bertahan hidup dengan memakan sisa-sisa makanan yang ada di tempat makanan sisa yang ada di restoran di sebuah kota.

Adapun anak laki-laki ini memiliki sebuah kekurangan dimana ia menderita paralysis (lumpuh sebagian) di bagian pergelangan tangan kirinya, sehingga sang anak tak dapat memutar pergelangan tangan kirinya seperti orang pada umumnya.

Anak laki-laki yang masih berusia sekitar 6 tahun ini sangat sayang kepada ayahnya, karena mereka tinggal di sebuah gubuk kecil dekat pantai dan si ayah sering mengajak si anak untuk berenang di pantai.

Adapun suatu saat ketika sang bermain-main di pantai, dia terseret ombak kecil dan hampir tenggelam, dan ia hanya bisa menjulurkan tangan kirinya keluar dari air tanpa bisa melambai-lambaikannya. Banyak orang disekitarnya hanya mengira sang anak sedang berenang seperti anak-anak lainnya.

Sang ayah yang melihatnya dengan sigap menolong sang anak dengan berlalri-lari menuju ke arah anaknya.
Orang-orang disekitar mereka pun bertanya kepada si ayah:”pak, bagaimana anda tahu bahwa anak anda sedang tenggelam, padahal anda berada di kejauhan ketika melihat anak ini menjulurkan tangannya?” si ayah pun menjawab “karena aku mengenalnya”, sambil menunjuk tangan kiri anaknya

Pada suatu kali, sang pemilik restoran merasa iba dengan nasib ayah dan anak ini. Diapun memberi tawaran untuk membantu kedua orang ini dengan memberikan pekerjaan dan beasiswa kepada si anak laki-laki ini.

Singkat cerita, taraf kehidupan keluarga ini meningkat drastis. Sang ayah memiliki pekerjaan sebagai seorang karyawan perusahaan ikan, sedangkan si anak bahkan menjadi seorang pemimpin perusahaan terkemuka di negaranya.

Seiring berlalunya waktu, gemilau kekayaan menyilaukan mata si anak, ketika sang ayah dipecat dan butuh bantuan, sang anak malah melupakan perjuangannya bersama sang ayah. Si anak sibuk dengan kehidupannya yang bergelimang kekayaan dan harta.

Sang ayah hanya bisa menangis mengetahui anaknya yang tidak peduli lagi akan dirinya, si ayah pun akhirnya beralih profesi sebagai seorang nelayan ikan serta tinggal di sebuah gubuk kecil dekat pantai tempatnya dahulu sewaktu masih miskin.

Bertahun-tahun berlalu, sang ayah sudah tua renta dan hampir tidak bisa melaut lagi. Pada suatu kali, ketika ia melaut, ia melihat ada sebuah kapal pesiar yang cukup mewah namun berukuran kecil hampir sama seperti kapal tuanya yang kelihatannya mulai tenggelam.
Kapal tersebut ditumpangi kira-kira 10 orang yang terdiri dari eksekutif perusahaan yang sangat bonafit serta ada pejabat penting negara tersebut. Sang ayah berusaha mendekati kapal itu dengan susah payah.

Ia melihat orang-orang penting itu sedang berenang menuju kapalnya untuk menyelamatkan diri, ketika beberapa orang bisa naik ke kapalnya, ia melihat ada beberapa lagi yang masih tersisa, matanya tertuju pada sebuah tangan kiri yang menjulur diantara orang-orang yang masih sedang berusaha menyelamatkan diri itu, dengan segera sang ayah mengenali tangan anaknya dan berusaha menolongnya.
Sang ayah dengan sisa-sisa kekuatannya berusaha menolong anaknya sekuat tenaga, pada akhirnya semuanya bisa selamat. Sayang, si ayah ternyata terlalu memaksakan dirinya ketika menolong si anak, ia pun hampir-hampir tenggelam ketika mendekati kapal bersama anaknya kalau saja tidak segera ditolong oleh yang lainnya.

Si anak pun yang tidak mengenali lagi ayahnya hanya bisa berterima kasih atas pengorbanan orang tua ini. Keadaaan menjadi terbalik ketika 10 orang ini melihat si ayah sepertinya semakin tersengal-sengal dan tubuhnya berguncang, si ayah mendekati ajal. Orang-orang ini pun berusaha memanggil tim penyelamat untuk menolong mereka dan si ayah ini.

Sang anak pun bertanya “pak, bagaimana anda tahu kalau saya tidak bisa berenang? Dan bagaimana bapak tahu kalau saya menjulurkan tangan kiri saya artinya saya sedang tenggelam?”

Dengan sisa-sisa kekuatan dan nafasnya, sang ayah menjawab “karena aku mengenalmu…” sambil menutup mata terakhir kalinya.

Air mata pun mengucur dari pipi sang anak ketika ia sadar bahwa orang tua itu adalah ayahnya yang sudah ia abaikan selama bertahun-tahun.

Air mata penyesalan pun tak dapat mengembalikan ayahnya, hanya kenangan yang melintas di kepalanya bagaimana ayahnya bermain dengannya di pantai.
Ia bisa saja mengabaikan bahkan melupakan sosok ayahnya, tetapi sang ayah tidak pernah lupa akan si anak.

***

Saudaraku, cerita diatas menggambarkan bahwa si ayah begitu mengenal anaknya melebihi orang lain didekatnya, bahkan meski sang ayah tidak berada di dekat sang anak.

TUHAN itu baik; Ia adalah tempat pengungsian pada waktu kesusahan; Ia mengenal orang-orang yang berlindung kepada-Nya”
Nahum 1:7

Tuhan sangat mengenal kita, bahkan melebihi pengenalan kita akan diri kita sendiri.
Mungkin orang lain tidak mengetahui berbagia kelebihan dan kekurangan kita. Tapi Tuhan tahu, dan Ia sangat ingin menjadi “Sang Penyelamat” dalam kehidupan kita. Bukan karena Ia mengharapkan balasan, tapi karena Ia sangat mengasihi kita.

Karena begitu besar kasih  Allah akan dunia ini , sehingga Ia telah mengaruniakan  Anak-Nya  yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya  kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. 
Yohanes 3:16

Dia sangat mengenal kita.

jangan biarkan respon kita terhadap KasihNya ditelan waktu

Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat!
Yesaya 55:6

Bapa akan selalu menjaga dan memegang tangan kita, karena: “DIA MENGENALMU dan MENGENALKU”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s